Kemuliaan itu dengan adab kesopanan (budi pekerti) bukan dengan keturunan

salim

الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لَا بِالنَّسَب

Kemuliaan itu dengan adab kesopanan (budi pekerti) bukan dengan keturunan

Mulia itu dengan Adab
Oleh; Syafa’atul Jamal

Begitulah bunyi nasehat dari seorang ahli hikmah, dengan susunan kalimat yang begitu sederhana, namun, sarat akan nilai dan makna. Manusia sebagai khalifah alam semesta, sudah sewajarnya mengetahui serta menjalankan “value” yang begitu agung ini. Bahkan, menjadi aktor untuk beradab. Sebab, adab menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu, tak mengherankan, jika Rasul dan para sahabatnya banyak mengajarkan adab sebelum hal-hal lain.

Secara kebahasaan kata “adab” sering diartikan dengan  kesopanan, kebaikan budi pekerti, serta akhlak. Artinya adab merupakan sebuah cermin bagi seseorang atas perbuatannya antara baik dan buruk, mulia ataupun hina. Sedangkan dalam istilah bahasa Arab biasanya diartikan dengan pengetahuan yang dapat menjaga diri dari sifat tercela. Karena hakikat adab adalah mendidik agar selalu berbuat baik yang kemudian sifat itu disebut dengan akhlak. Maka, sangat wajar jika beberapa cendikiawan muslim menawarkan konsep ta`dib bagi pendidikan Islam.

Hal itu benar kiranya, sebab kata addaba mempunyai makna mendidik sebagaimana Hadist masyhur “Addabanī rabbī faahsana ta`dībī, artinya orang beradab adalah yang benar-benar terdidik. Maka tak berlebihan kiranya jika terdapat slogan “hanya orang beradablah yang dapat dikatakan berpendidikan”. Karena, dengan adab tersebut, manusia bertindak, bersikap, bahkan bersifat mulia yang mencerminkan kependidikan sekaligus kemanusiaannya.

Di sisi lain, pada hadis di atas juga dilekatkan kata “rabb” yang berarti Tuhan. Ini mengidentifikasikan bahwa nilai-nilai adab haruslah diikat erat dengan Tuhan. Dengan kata lain, nilai spiritualitas tak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan manusia. Maka dari itu, cukup akurat tampaknya jika dikatakan ketika seseorang beradab, maka sejatinya ia telah melakukan sebuah penghambaan yang merupakan bagian keimanan.

Adalah Ibn Qoyyim al-Jauziyyah yang pernah menjelaskan melalui kitab fawa`idnya, bahwa adab merupakan bagian dari keimanan. Sebab menurutnya, keimanan itu menyangkut dua bentuk penting, yaitu zahir dan batin. Yang pertama, dapat berupa ungkapan lisan maupun perbuatan anggota badan atau yang biasa disebut dengan adab dan akhlak, sedangkan kedua, adalah kepercayaan hati, ketundukan dan kecintaan. Oleh sebab itu, jika dilihat sisi dhohir, maka nilai-nilai adab dapat disebut bukti konkrit bagi keimanan seseorang.

Senada dengan kesimpulan Ibn Qoyyim, K.H Hasyim Asy’ari melalui karyanya Adabu al-‘Alim wa al-Muta’allim, juga menuturkan bahwa adab merupakan bentuk real dari iman. Karena menurut beliau, seseorang yang tak beradab, sebenarnya ia sama tak bersyari’at, tidak pula beriman, atau pun bertauhid. Lebih lanjut beliau menuturkan, seorang mukmin tentu akan selalu berpegang teguh pada nilai-nilai Syari’at yang sudah pasti sarat akan nilai-nilai adab. Maka dari itu, ketika seseorang tak lagi beradab, sejatinya ia tak bersyari’at sebagaimana Islam ajarkan, tambahnya.

Islam, sejatinya telah banyak menerangkan tentang mulai dan pentingnya beradab, baik itu kepada Tuhan, manusia, ataupun makhluk lainnya. Misalnya, dalam al-Qur`an diterangkan adab kepada Tuhan dalam al-Baqarah[2]: 32, al-A’raf[7]: 132, Hud[11]: 45, adab kepada Nabi; an-Nur[24]: 63, al-Hujurat[49]: 1-3, adab sesama manusia; Ali Imran[3]: 199, al-‘Arāf[7]:199, al-Isrā`[17]:24, atau bahkan, adab kepada ciptaan Tuhan lainnya; al-Baqarah[2]: 11, al-Māidah[5]: 32, ar-Rūm[30]: 41 dan lain sebagainya.

Dalam banyak Hadist pun Rasulullah juga selalu mengajarkan adab. Sebagai contoh adalah sabdanya mengenai adab berbicara; “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaknya diam” (Muttafaq ‘alaih, Bukhari no. 6108, Muslim no. 47). Hal ini sebenarnya telah menunjukkan bahwa Islam sejak awal selalu memberikan perhatian utama dalam masalah adab. Terlihat dalam sabda Nabi di atas bagaimana korelasi antara “berkata atau pun berbicara dengan nilai sebuah keimanan”. Oleh karenanya, sangatlah wajar bila Islam memberikan tampat yang mulia bagi mereka yang beradab.

Namun, dalam kaitannya kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dibutakan dengan pangkat dan derajat dunia yang serba semu. Status sosial yang cenderung menekan seakan-akan selalu menjadi petokan akhir dari nilai kemuliaan. Ketika hal ini terjadi, maka manusia akan kehilangan fitrahnya, serta jatuh dalam derajat hewan yang memuja nafsu belaka. Seseorang tak lagi perduli dengan sesama saudaranya, demi mendapatkan jabatan atau pun harta kekayaan yang dianggap dapat membuatnya mulia. Jika demikian, apa perbedaan antara manusia dengan binatang?, tentu sama sekali tidak berbeda. Maka dari itu, masih adakah angan-angan ingin mulia dengan jabatan ataupun kekayaan?. Wallāhu a’lamu bisshawāb

syafaat

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this page

You may also like...