PEMUDA(I), JANGAN TUMBANG SEBELUM BERKEMBANG

Perubahan zaman merupakan sunnatullah yang harus dipersiapkan dan dihadapi. Masa depan agama Islam, bangsa, dan Negara Indonesia berada di bahu para generasi muda. Pastinya tongkat estafet kepemimpian Islam akan berganti kepada mereka, pemuda. Oleh karena itu, agama Islam memerintahkan agar mempersiapkan generasi atau pemuda dengan sebaik-baiknya.

Jika pemuda diibaratkan seperti perjalanan matahari yang setiap harinya kita saksikan dari bumi. Usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu. Hampir-hampir seluruh daya kekuatan matahari tercurah untuk makhluk Allah di bumi. Hingga bumi merasakan kehangatan yang luar biasa dan makhluk Allah yang berada di bumi bisa melanjutkan kehidupan dengan adanya sinar matahari. Analogi matahari itu kurang lebih sama seperti pemuda. Di usia muda inilah patutnya pemuda memberikan segala daya upayanya untuk kebermanfaatan sesama makhluk Allah. Hingga semua merasakan keberkahan dari pemuda.

Semua manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Manusia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahiq (puber) dan kuhulah (produktif) yakni antara usia  15—35 tahun.

Layak disebut produktif, yang bermakna ‘mampu menghasilkan’ karena diharapkan pemuda mampu mendayagunakan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk umat. Dahulu, ada ahli sastra Arab yang menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Namun, itu suatu kemustahilan, hal yang tidak mungkin terjadi.

1

“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.

Jika orang tua saja ingin kembali pada masa mudanya. Lantas patutkah kita, para pemuda Islam, hanya duduk berpangku tangan, hingga tumbang sebelum berkembang? Sungguh itu tidaklah pantas.

Oleh karena itu, masa muda ini harus dipersiapkan untuk mengemban tugas. Salah satunya dengan memiliki empat profil pemuda Islam, yakni:

Pertama, genggam aqidah yang benar. Aqidah Islam tegak berdasarkan peng-Esaan kepada Allah, mengakui-Nya sebagai Tuhan, penguasa, pencipta, pemberi rizki, pemilik langit, bumi dan seisinya serta satu-satunya Zat yang akan menghidupkan kembali yang akan memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya, dan inti dari akidah adalah Tauhid.

Tauhid menjadi misi utama para nabi dan rasul serta para shalih terdahulu yang tidak boleh dilupakan. Apa yang dilakukan oleh Yaqub as ketika hampir wafat, patut kita teladani dalam mempersiapkan pemuda sebagai generasi penerus. Waktu itu, Yaqub bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalanku?” semua anak-anaknya menjawab, kami akan menyembah Tuhanmu, Tuhan bapak-bapakmu-Ibrahim, Ismail, Ishak yakni Allah SWT dan kami berserah diri kepada-Nya (kisah ini diabadikan dalam QS. Al Baqarah:133).

Demikian pula pengajaran Lukman kepada anaknya yang diabadikan dalam Al-Qur’an yang artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS.Lukman:13).

Dasar pendidikan akhlak bagi seorang pemuda adalah akidah yang benar, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran darinya. Oleh karena itu jika seorang pemuda berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidahnya salah dan melenceng, maka akhlaknya pun akan tidak benar. Dalam satu hadis Rasulullah SAW bersabda:

2

“Mukmin yang sempurna imannya, adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Turmudzi dari Abi Hurairah).

Kedua, tempa diri dengan memiliki ilmu dan tsaqafah Islam. Kita semua terutama pemuda hendaklah senantiasa menempa diri dan secara terus-menerus mencari ilmu dan mengamalkannya. Tanpa ilmu pemuda akan tertinggal. Islam mengajak manusia untuk menguasai ilmu, dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS.Al-‘Alaq:1—4).

Betapa pentingnya ilmu bagi seorang pemuda, Rasul yang mulia senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar dan membaca. Ada baiknya kita menelaah kembali kisah seorang pemuda yang usianya belum genap tiga belas tahun berjalan mendekati barisan pasukan muslim dengan membawa sebilah pedang ia mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku membaktikan hidupku kepadamu. Izinkan aku untuk pergi bersamamu dan memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu”.

Rasulullah yang mulia memandang anak tersebut dengan penuh kekaguman dan menepuk pundaknya. Beliau memuji keberaniannya, tetapi menolaknya untuk bergabung dengan pasukan muslim. Anak muda itu (Zaid bin Tsabit ra.) Rasulullah pun kemudian memberikan tugas kepadanya. “Zaid pergilah belajar tulisan Yahudi”. Zaid kemudian belajar bahasa Ibrani. Maka kemudian ia sangat fasih berbahasa Ibrani dan menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Rasulullah juga memerintahkan Zaid untuk belajar bahasa Syria. Demikian Zaid mempunyai fungsi penting ketika Rasulullah berunding dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa yang tidak bisa bahasa Arab.

Ketiga, asah keterampilan diri dalam berbagai hal untuk dimanfaatkan dalam kebaikan dan kebenaran dalam upaya mencapai kemajuan diri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Pada masa Rasulullah SAW para sahabat telah menunjukkan kemampuan yang terampil dalam berbagai hal, ada yang terampil dalam berdagang, berperang dan sebagainya yang semua ini tentu saja amat berguna.

Kepada mereka yang memang terampil, Rasulullah SAW sendiri tidak segan-segan memberi penghargaan dan amanah guna mengembangkan keterampilannya itu. Maka ketika Usamah bin Zaid telah menunjukkan keterampilannya yang luar biasa dalam berperang, beliau tidak segan-segan mengangkatnya menjadi panglima perang meskipun umurnya baru 17 tahun, sementara Mush’ab bin Umair yang terampil dalam dakwah, ditugaskan beliau untuk dakwah ke Yatsrib (Madinah).

Keempat, tanamkan rasa tanggung jawab, Di antara bukti kebenaran dan kemuliaan nilai-nilai Islam adalah adanya tuntutan tanggung jawab dari setiap individu atas semua perbuatannya. Diferensiasi yang hakiki antara manusia adalah dengan mengukur rasa tanggung jawab serta kemauan untuk menanggung akibat dari perbuatan yang dilakukan.

Prinsip tanggung jawab ini merupakan salah satu prinsip yang ditetapkan dalam Al Qur’an dalam sejumlah ayatnya :

3

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al Mudatsir:38).

Pada prinsipnya tanggung jawab ini mencakup kepada tiga hal, yaitu; tanggung jawab pemuda sebagai seorang individu, tanggung jawab sebagai anggota masyarakat, tanggung jawab sebagai bagian dari umat.

Keempat profil itulah yang harus dimiliki oleh pemuda Islam. Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.” Ungkapan itu diperkuat dengan perkataan Ali bin Abi Thalib:

4

“Barang siapa jelek akhlaknya (ketika muda), ia akan tersiksa ketika tua.”

Dari ungkapan dan perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut, jelas sudah bahwa keberlangsungan masa tua seseorang bergantung pada masa mudanya. Jika masa mudanya diisi dengan ketaatan pada Allah, maka masa tuanya juga dalam ketaatan. Sebaliknya, jika masa mudanya dihabiskan dengan kejelekan akhlaq dan hedonisme, maka masa tuanya juga tidak akan jauh dari kejelekan akhlaq dan hedonisme.

Ingatlah apa yang ditanam di masa muda, kelak akan dituai di masa tua. Semoga menjadi pelecut kesadaran dan semangat pemuda untuk mempersiapkan diri sebagai pemutar roda kejayaan Islam. Aamiin. Ustdza Nova Guru SMP

BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this page

You may also like...